Home Disaster Kolaborasi BARAYA CARE dan YKRI Pelopori Sosialisasi SPAB di Kota Depok

Kolaborasi BARAYA CARE dan YKRI Pelopori Sosialisasi SPAB di Kota Depok

211
0
SHARE
Kolaborasi BARAYA CARE dan YKRI Pelopori Sosialisasi SPAB di Kota Depok

Keterangan Gambar : Rangkaian Sosialisasi Kesiapsiagaan dan Simulasi Kebencanaan di SMP & SMK YPPPA Kota Depok, Kamis, 27 Agustus 2026

KOTA DEPOKParahyangan Post – Baraya Care dan Yayasan Kausa Resiliensi Indonesia serta didukung oleh berbagai lembaga kemanusiaan lainnya mempelopori kegiatan sosialisasi kesiapsiagaan & simulasi bencana untuk Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Kota Depok, hal ini dikatakan Ketua Umum Baraya Care, Teuku Arifin, saat di konfirmasi tim media ini.

Lebih lanjut menurut Arifin, saat ini Baraya Care menggandeng sejumlah lembaga kemanusiaa dan pihak-pihak terkait lainnya, fokus pada kegiatan sosialisasi kesiapsiagaan & simulasi bencan untuk Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), khususnya di Kota Depok.

Disisi lain Ketua Yayasan Al Ahya, Fidraus Adjum menambahkan bahwa ini merupakan kegiatan yang ke sekian kalinya dilaksanakan oleh Baraya Care, beberapa waktu lalu pihaknya telah melaksanakan edukasi dan sosialisasi kesiapsiagaan serta simulasi kebencanaan di SMK Ganesha Kota Depok. Kami berkomitmen untuk terus melakukan eudkasi kesiapsiagaan bencana ke-sekolah-sekolah.

Sebagaimana diketahui bahwa Baraya Care bersama YKRI dan didukung oleh berbagai lembaga kemanusiaan dan instansi terkait lainya, menggelar Sosialisasi Kesiapsiagaan & Simulasi Kebencanaan di SMP & SMK YPPA Depok, Kamis, 22 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh siswa/siswi SMP & SMK YPPA Depok, termasuk guru, pegawai dan warga sekolah lainya, yang berjumlah sekitar tujuh ratusan orang.  Kegiatan tersebut juga di hadiri oleh perwakilan dari Dinas Damkar dan Penyelamatan Kota Depok.

Sementara itu menurut Nia Hakim dari YKRI selaku Fasilitator dalam kegiatan tersebut bahwa ‘satuan pendidikan’ tidak semata-mata sekolah saja. Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, non formal dan informal di setiap jenjang dan jenis pendidikan.

Lebih lanjut Nia Hakim juga menjelaskan, bahwa SPAB merupakan upaya pencegahan dan penanggulangan bencana pada satuan pendidikan yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomo3 33 Tahun 2019 tentang penyelenggaraan program SPAB.

SPAB ditujukan untuk mengurangi risiko bencana, baik bencana geologis maupun hidrometeorologis, dan memastikan kenyamanan dan keamanan proses pembelajaran. Dalam hal ini lanjut Nia Hakim, bahwa pelaksanaan kegiatan SPAB harus mengadopsi pendekatan yang komprehensif mencakup semua ancaman bahaya, semua risiko.

“Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di sekolah dapat terealisasi melalui 3 (tiga) pilar, yaitu ; pilar pertama, mencakup fasilitas yang lebih aman. Kedua, manajemen penaggulangan bencana dan kesinambungan pendidikan. Dan yang Ketiga, pendidikan pengurangan risiko dan resiliensi,”jelas Nia Hakim.

Kegiatan sosialisasi pencegahan dan simulasi bencana, untuk satuan pendidikan aman bencana di YPPA Depok, dibagi menjadi dua sesi, dimana sesi pertama untuk sosialisasi diaula sekolah yang diikuti oleh masing-masing perwakilan yang ada, baik dari PMR, Pramuka, OSIS, dll, dan sesi kedua pelaksanaan simulasi.

Para perwakilan ini diberikan materi tentang kesiapsiagaan disekolah saat terjadi bencana, dalam hal ini gempa bumi, setelah itu para perwakilan dibagi kedalam beberapa kelompok dan masing-masing kelompok mendapat tugas sesuai bidangnya masing-masing, serta mempresentasikan hasilnya.

Selanjutnya dari masing-masing perwakilan ini, kembali ke kelas untuk memberikan edukasi kepada kawan-kawanya dikelas, apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana, dalam hal ini ‘gempa bumi’.

Sesi Simulasi

Setelah siswa, siswi dan warga sekolah mendapatkan sosialiasi dari tim perwakilan tadi, bunyi sirine berbunyi sebagai pertanda terjadinya bencana (gempa bumi-red), dan masing-masing perwakilan yang ada dikelas, sekaligus sebagai Floor Warden, mengarahkan para siswa yang ada di kelasnya, untuk evakuasi, menjaga keselamatan penghuni kelas tersebut dan memastikan area kelas steril sebelum ia sendiri keluar.

Memberi aba-aba perlindungan, menginstruksikan para siswa yang ada dikelas tersebut untuk ‘Drop, Cover, and Hold On (merunduk, berlindung di bawah meja atau struktur yang kokoh dan berpegangan selama guncangan berlangsung, dan memantau sistuasi serta menjauhkan para siswa dari benda-benda yang berbahaya dan berisiko jatuh.

Selanjutnta mereka mengarahkan ke jalur evakuasi, memeriksa ruangan untuk memastikan tidak ada siswa/orang yang tertinggal didalamnya, membawah perlengkapan darurat, termasuk membawah daftar hadir jika diperlukan pemeriksaan. Dan melaporkan kondisi, situasi jalur evakuasi dikelas tersebut aman, serta melaporkan status evakuasi kepada Komandan Evakuasi di-titik kumpul (asembely point).

Ditengah cuaca terik saat simulasi tidak menyurutkan para siswa untuk mengikuti kegiatan ini, mereka tampak antusias dan proaktif dalam setiap sesi yang diikutinya.

Simulasi kebencanaan di sekolah sangat penting untuk melatih kesiapsiagaan, mengurangi risiko korban jiwa, dan membangun budaya sadar bencana sejak dini. (WS)